Mencontoh
kebiasaan baik dari negara luar buka berarti kita eggak berjiwa nasionalis.
Bisa memperbaiki citra bangsa kita dan pastinya bermanfaat buat diri sendiri
dan juga orang lain.
Terbiasa datang
terlambat saat bikin janji dengan orang lain menunjukkan kalau kita enggak
menghargai orang itu. Kebayang, dong, capeknya dia menunggu kita atau hal- hal
apa saja dia korbankan supaya bisa datang tepat waktu? Mungkin kita berpikir
teman yang akan kita temui juga akan terlambat. Karena sama- sama berpikir
seperti ini, terlambat pun kebiasaan. Mulai sekarang, pastikan kalau kita sama-
sama mematuhi waktu yang telah disepakati. Enggak susah, lho!
Kadang kita
enggak sadar pas lagi jalan di tempat umum (trotoar, tangga, eskalator,
jembatan penyebrangan) kita sering memperlambat langkah dan menutup jalan.
Entah karena lagi ngobrol sama teman atau lagi main HP. Hal ini bisa mengganggu
orang yang berada di belakang kita. Jalan santai memang enggak ada yang melarang
tapi usahakan tetap menyediakan ruang untuk orang lain yang sedang terburu-
buru. Misalnya melowongkan jalan di sebelah kanan untuk orang yang ingin
mendahului kita.
Awalnya mungkin
kita menganggap ini aneh karena belum menjadi kebiasaan di negara kita. Bisa
jadi karena kita menganggap ada pelayan yang akan mengerjakannya. Tapi,
bukankah ini ide yang menarik? Selain meringankan kerja pelayan, semakin cepat
juga orang bisa duduk dan makan di tempat kita sehingga pelayan resto bisa
semakin efektif. Pelayanan efektif ini enggak Cuma menguntungkan si pengusaha
resto tapi kita juga sebagai konsumennya.





